Rabu, 30 November 2011

Pengaruh Ekstrak

PENGARUH EKSTRAK BAWANG MERAH (Allium ceva) TERHADAP PERTUMBUHAN KACAN G TANAH (Arachis hipogaea)  DAN TOMAT (Solanum lycopersicum)
OLEH
FADILLAH,A;CH,ERAYATI;GINTING,NGALO PUTRI
(Biologi Nondik-09, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan)
Contact  Person     :           085761462366 (Aisyah Fadillah)
 085270519801 (Erayati CH Ginting)
         085270123707 (Ngalo Putri Ginting)
ABSTRACT
Shallot (Allium ceva) contains quercetin considered has a potential as hypoglycemic agent through its inhibition acting to alpha amylase enzyme which play a role in carbohydrate digestion. The aim of the present study is to determine the influence of shallot ( Alium ceva) extract on the growth of the peanuts (Arachis hipogea) and tomatoes (Solanum lycopersicum). This study conducted to determine the substances contained in Allium ceva. Either a beneficial or detrimental to other plants. Not limited to that alone, in this experiment also aimed to determine the effect or response to any given plant extracts such Allium ceva. Know respons the peanuts and tomatoes, are positive in the sense of growth to be better both in quality and quantity. As well as on tomato. experiment was conducted on campus and in the experimental samples placed in a greenhouse. Experiment was conducted during the month. Observation and watering is done every day but the data assessment is done every week. This study has 2 parameters with 2 different plant extract that is giving Allium ceva to peanuts and not, as well as tomatoes. Expected to influence or responses that occur to both types of these plants differ from one another.



PENDAHULUAN
Bawang merah atau Brambang (Allium ascalonicum L.) adalah nama tanaman dari familia Alliaceae dan nama dari umbi yang dihasilkan. Umbi dari tanaman bawang merah merupakan bahan utama untuk bumbu dasar masakan Indonesia.
Bawang merah adalah tanaman semusim dan memiliki umbi yang berlapis. Tanaman mempunyai akar serabut, dengan daun berbentuk silinder berongga. Umbi terbentuk dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan fungsi, membesar dan membentuk umbi berlapis. Umbi bawang merah terbentuk dari lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu. Umbi bawang merah bukan merupakan umbi sejati seperti kentang atau talas.
Umbi bawang merah dan bawang bombay dikenal dapat menginduksi keluarnya air mata apabila diiris. Hal ini disebabkan reaksi berantai yang terjadi dalam sel-sel umbinya. Apabila umbi lapis diiris, sel-selnya akan pecah dan melepaskan berbagai senyawa yang terkandung di dalamnya. Dua senyawa yang terlepas di antaranya adalah enzim allinase and asam amino. Allinase yang bertemu dengan asam amino yang mengandung belerang (sulfoksida, yaitu sistein dan metionin) akan melepaskan asam sulfenat (R-SOH). Asam sulfenat bersifat tidak stabil dan segera berubah menjadi tiosulfinat [R-S(O)-S-R']. Tiosulfinatlah yang bertanggung jawab atas aroma khas bawang. Selain menjadi tiosulfinat, asam sulfenat yang bertemu dengan enzim lain, LF-sintase (LF singkatan dari lacrymatory factor: "faktor air mata"), akan diubah menjadi syn-propanethial-S-oxide yang berwujud gas.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan Bawang Merah (Allium ascalonicum) memiliki kandungan quercetin dalam kadar yang cukup tinggi. Quercetin adalah salah satu senyawa jenis flavonoid, bagian dari kelompok polifenol yang kandungannya terdapat pada berbagai tumbuhan dan diketahui memiliki berbagai potensi yang berguna bagi kesehatan.
Beberapa Kandungan yang bermanfaat dari bawang merah adalah Fosfor, Niacin,  Enzym Allinase, Sulfur,  Vitamin B 1,  Vitamin C,  Flavanoid, Asam Fenol,  Pektin,  Volati Oil,  Sterols, Kalsium, Saponis, Karbohidrat, Serat.
Bawang merah bukan sebagai sumber utama karbohidrat, pro-tein, vitamin maupun mineral. Namun demikian, potensi dari produk ini tak kalah penting daripada produk pertanian lainnya. Bawang merah merupakan komoditi pertanian ang banyak mengandung air, dimana airnya sekitar 80-85%. Dari setiap 100 gram umbi bawang merah kandungan airnya mencapai 80-85 g, protein 1,5 g, lemak 0,3 g, karbohidrat 9,3 g. Adapun komponen lain adalah beta karoten 50 IU, tiamin 30 mg, riboflavin 0,04 mg, niasin 20 mg, asam askorbat (vitamin C) 9 mg. Mineralnya antara lain kalium 334 mg, zat besi 0,8 mg, fosfor 40 mg, dan menghasilkan energi 30 kalori.
Tanaman ini tumbuh di seluruh Indonesia terutama di pegu-nungan, sehari-hari dikenal sebagai bumbu untuk masakan, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain di dunia. Selain untuk bumbu, bawang merah sudah sejak lama digunakan untuk pengobatan keluarga.
Bangsa Mesir kuno telah mengenal bawang merah sejak 5000 tahun silam. Bawang merah merupakan bahan terkenal sebagai obat pilek sejak berabad-abad lamanya. Selain itu, bawang merah ber-fungsi membunuh bakteri penyebab penyakit Entamuba coli dan salmonella.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa bawang merah mampu menurunkan kadar kadar gula dan kolesterol dalam darah. Juga dapat menghambat enumpukan trombosit. Selain itu bawang merah dapat meningkatkan aktivitas fibriolitik sehinga memperlancar aliran darah. Tidak kalah pentingnya bawang merah dapat memobi-lisasi kolesterol dari tempat penimbunannya.
Dengan pengaruh semacam ini bawang merah dapat meneka terja-dinya penyakit komplikasi kencing mnis, seperti jantung, gangren dan penyakit lain. Menurut Depkes RI dalam Buku Tanaman Obat Indonesia, umbi bawang merah dengan nama simplisia Alii cepae Bulbus mengandung minyak atsiri,siklo aliin, metilaliin, dihidroaliin, kaemferol, fluroglusin.
Di dalam bawang merah terdapat ikatan asam amino yang tidak berbau, tak bewarna dan dapat larut dalam air. Ikatan asam amino ini disebut aliin. Dimana senyawa tersebut dapat berubah menjadi alicin. Bersama dengan tiamin (vitamin B), alicin dapat membentuk allitiamin, senyawa bentukan ini ternyata lebih mudah diserap oleh tubuh daripada viamin B sendiri. Degan demikian, alicin dapat membuat vitamin B lebih efisien dimanfaatkan oleh tubuh.
Senyawa-senyawa yang bersifat bakterisida dan fungisida diduga juga terdapat dalam minyak atrisi bawang merah. Menurut Depkes RI dalam Buku Tanaman Obat Indonesia, umbi bawang merah dengan nama simplisia Alii cepae Bulbus berguna untuk memacu enzim pencernaan, obat luka, peluruh air seni, peluruh dahak/obat batuk, peluruh haid, dan obat sakit gula.
Bawang goreng adalah bawang merah yang diiris tipis dan digoreng dengan minyak goreng yang banyak. Pada umumnya, masakan Indonesia berupa soto dan sup menggunakan bawang goreng sebagai penyedap sewaktu dihidangka.bawang goreng merupakan bumbu yang paling sering di gunakan orang indonesia untuk membuat masakan.
Pemberian stimultor ekstrak bawang merah mampu meningkatkan produksi getah karet. Kandungan bawang merah dapat menghambat aktivitas mikroba yang berada di dalam lateks yang menyebabkan lateks tidak cepat menggumpal. Hal ini dapat melancarkan aliran lateks yang keluar dan lateks yang keluar lebih lama, menyebabkan produksi getah karet meningkat.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengatahui pengaruh kandungan bawang merah (Allium ceva) terhadap pertumbuhan kacang tanah (Arachis hypoagea
) ataupun tomat (Solanum lycopersicum). Dari respon yang ditunjukkan oleh masing-masing tanaman dapat diketahui kandungan dalam ekstrak bawang merah (Allium ceva) tersebut.
Diharapkan melalui percobaan ini dapat diketahui fungsi dari bawang merah (Allium ceva). Sehingga dapat bermanfaat sebagi sumber bahan alami yang dapat menjadi salah satu solusi untuk penanganan pertumbuhan tanaman serta sebagai sumber acuan untuk penelitian selanjutnya dalam menunjang perkembangan ilmu pengetahuan lebih lanjut.
Kata kunci    : Allium ceva, Arachis hypoagea dan Solanum tuberosum.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di kampus Universitas Negeri Medan selama satu bulan (empat minggu), mulai November sampai dengan Desember 2010. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental.
Hal-hal yang diteliti adalah pengaruh ekstrak Allium ceva yang diambil dari pasar tradisional di daerah Tembung terhadap pertumbuhan kacang tanah dan tomat yang diperoleh dari tempat yang sama pula. Dan ditempatkan di rumah kaca di dalam wilayah kampus. Meneliti pertumbuhan pada tomat dan kacang tanah yang diberi ekstrak bawang merah dan yang tidak diberi ekstrak atau sebagai kontrol.
Biji tomat dan kacang tanah ditanam di dalam pot yang berbeda masing-masing dua pot. Kadar bawang merah yang diberikan pada satu pot kacang tanah dan tomat adalah sebanyak tiga siung bawang dengan ukuran yang sama. Bawang tersebut diiris halus dan ditaburkan di atas masing-masing pot. Pemberiannya dilakukan setiap satu minggu sekali, sama halnya dengan pengukuran pertumbuhan tinggi masing-masing batang dan dokumentasi pertumbuhan setiap tanaman. Namun penyiraman dan pengecekan sampel tanaman dilakukan setiap hari.
 
Gambar 1.1. Biji kacang tanah dan biji tomat
Pot 1(A)    : Biji kacang tanah yang diberi ekstrak bawang merah
Pot 2(B)    : Biji kacang tanah tanpa ekstrak bawang merah
Pot 3(C)    : Biji tomat yang diberi ekstrak bawang merah
Pot 4(D)    : Biji tomat yang tidak diberi ekstrak bawang merah
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah satu hari percobaan, tidak ada terjadi pertumbuhan yang kasat mata pada masing-masing biji. Pada hari yang kedua, hanya kecambah dari kacang tanah yang muncul. Kecambah tomat muncul setelah percobaan berlangsung selama tiga hari. Hal ini terlihat dari pecahnya ovula dan muncul kecambah dari dalamnya.


A.    PERSENTASE PERKECAMBAHAN
Namun tinggi masing-masing kecambah berbeda satu dengan yang lainnya. Berikut ini merupakan table data perkecambahan masing-masing tanaman. Tabel ini menyediakan hari mulai munculnya kecambah.


PERLAKUAN    PENGULANGAN    PERSENTASE      
    1    2    3          
A    2    -    2    66%      
B    2    -    -    33%      
C    -    -    4    66%      
D    3    3    3    100%   

Catatan        : A = Pot I
          B = Pot II
          C = Pot III
          D = Pot IV
Dari data diatas dapat diketahui bahwa ada beberapa biji yang tidak berkecambah (gagal). Hal itu dapat disebabkan oleh factor internay yaitu keadaan biji itu sendiri. Mungkin biji tersebut sudah tidak memungkinkan lagi untuk melakukan perkecambahan. Faktor yang lain adalah keadaan lingkungan sekitar yaitu suhu yang tidak sesuai, kelembaban, pH tanah, kurangnya cahaya dan sebagainya. Faktor yang lain adalah saat penyiraman yang berlebuhan atau kurangnya air.
Namun ada juga kecambah yang muncul. Hal ini berarti percobaan dapat dilanjutkan. Kecambah muncul serentak pada hari yang sama yaitu pada hari yang kedua dan ada yang hari ketiga. Namun letak perbedaannya pada tinggi batang yang muncul yang berhubungan dengan kecepatan pertumbuhan.



B.    TINGGI BATANG
    Analisi data tinggi batang masing-masing tanaman :
·    Kacang tanah (Arachis hypogaea)

PERLAKUAN    PENGULANGAN    TOTAL    RATA-RATA      
    1    2    3              
A    60 cm    -    43 cm    103    34.33      
B    35 cm    -     -    35    11.6      
TOTAL    95    -    43    138    45.9   

1.    Faktor Koreksi
FK  =    
FK     =    
    =   
    =    3174

2.    Jumlah rata-rata persegi/Sum of Square (SS)
a.    Jumlah rata-rata persegi total /Total Sum of Square (SStot)
SStot     =        
    =    (602 + 352 ) + (432)  – 3174
    =    (3600  + 1225) + (1849)  – 3174
    =    6674  – 3174
    = 3500
b.    Jumlah perlakuan rata-rata persegi /Treatment Sum of Square (SStr)
SStr    =    
    =      – 3174
    =      – 3174
    =    3944.66 – 3174
    =    770.66
c.    Jumlah kesalahan percobaan persegi/Experimental Error Sum of Square (SSexp error)
SSexp error    =    SStot – SStr
    =    3500 – 770.66
    =    2729.34

A.    Analisis VariansiAnalysis of Variance
1.     Derajat kebebasan/Free Degree (FD)
a.    FDperlakuan
V1    =    h – 1
    =    4 – 1  = 3
b.    FDexp error
V2    =    (rh – 1) – (h-1)
    =    (3*4 – 1) – (4– 1 )
    =    8
2.    Kuadrat tengah/Middle Square (MS)
a.    Kuadrat tengah perlakuan/Middle Squareperlakuan
MStr    =   
    =   
    =    256.88
b.    Kuadrat tengah/Middle Squareexp error
MSexp error    =   
    =   
    =    341.16

3.    F Test
a.    F count    =   
    =    
    =    0.75

b.    F 5% =  4.07
c.    F 1% = 7.59

4.    Analisis koefisien/Variance Coefficient (VC)
VC     =      x 100%
      =    
        =      =    11.5
VC    =     x 100%
    =      x 100%
    =    1.6%

·    Tomat (Solanum lycopersicum)

PERLAKUAN    PENGULANGAN    TOTAL    RATA-RATA      
    1    2    3              
C    -    -     26 cm    26    8.6      
D    26 cm    43 cm    30 cm     99    33      
TOTAL    26    43    56    125    41.6   


1.    Faktor Koreksi/Correction Factor (CF)
CF  =    
CF     =    
    =   
    =    2604.166

2.     Jumlah rata-rata persegi/ Sum of Square (SS)
a.    Jumlah rata-rata persegi total/Total Sum of Square (SStot)
SStot     =        
    =    (262) +( 432 ) + (262 + 302)  – 2604.166
    =    (676) +( 1849) + (676+ 900)  – 2604.166
    = 4101 – 2604.166
    = 1496.83
b.    Jumlah perlakuan rata-rata persegi/Treatment Sum of Square (SStr)
SStr    =    
    =      – 2604.166
    =      – 2604.166
    =    3492.33 – 2604.166
    =    888.167
c.    Jumlah kesalahan percobaan persegi/Experimental Error Sum of Square
(SSexp error)
SSexp error    =    SStot – SStr
    =    1496.83 – 888.167
          = 608.663

A.    Analisis variansi/Analysis of Variance
1.    Derajat kebebasan/Free Degree (FD)
a.    FDperlakuan
V1    =    h – 1
    =    4 – 1  = 3
c.    FDexp error
V2    =    (rh – 1) – (h-1)
    =    (3*4 – 1) – (4– 1 )
    =    8
2.    Kudrat Tengah/Middle Square (MS)
a.    Kudrat tengah perlakuan/Middle Squaretreatment
MStr    =   
    =   
    =    296.0
c.    Kuadrat tengah/Middle Squareexp error
MSexp error    =   
    =   
    =    76.0

b.    F Test
d.    F count    =   
    =    
    =    3.74

e.    F 5% =  4.07
f.    F 1% = 7.59

c.    Analisis koefisien/Variance Coefficient (VC)
VC     =      x 100%
      =    
        =      =    10.41
VC    =     x 100%
    =      x 100%
    =    0.83%

    Setelah melakukan penelitian ini dapat diketahui bahwa ekstrak bawang merah memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tomat dan kacang tanah. Pada tomat, ekstrak bawang merah bekerja sebagai allelopati yang menyebabkan pertumbuhan tomat menjadi lebih lama. Pada tomat yangv diberikan ekstrak bawang kecambah muncul pada hari yang keempat, berbeda dengan tomat yang tidak diberi ekstrak yaitu muncul pada hari yang ketiga.
    Dan pertumbuhan pada tomat pun menjadi lebih lambat, karena pada penelitian hari terakhir tinggi tanaman tomat yang tidak diberi ekstrak jauh lebih tinggi daripada tomat yang diberi ekstrak tomat. Hal ini berbeda dengan sumber yang pernah kami dengar yang menyatakan bahwa bawang merah memiliki kadar ausin yang tinggi sehingga dapat mempercepat tinggi suatu tanaman.
    Lain halnya dengan tomat, pada kacang tanah yang diberi ekstrak bawang merah lebih cepat tumbuh daripada kacang tanah yang tidak diberi ekstrak bawang merah. Dari hasil percobaan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi ekstrak bawang merah berubah menjadi hormon auksin yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan yang terjadi pada pertumbuhan kacang tanah yang diberikan ekstrak bawang merah dengan yang tidak diberi ekstrak.
    Kacang tanah yang diberi ekstrak bawang merah lebih cepat tumbuh dan tinggi akhirnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan kacang tanah yang tidak diberikan ekstrak.


KESIMPULAN
    Setelah melakukan percobaan dapat disimpulkan bahwa ekstrak bawang merah dapat menjadi penghambat (allelopati) dan bias juga berfungsi sebagai hormon yang dapat mempercepat pertumbuhan suatu tanaman.
    Pada tomat (Solanum lycopersicum) ekstrak bawang merah menghambat pertumbuhan, sedangkan pada kacang tanah berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan.

SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui zat-zat yang terkandung dalam bawang merah (Allium ceva).




















DAFTAR PUSTAKA
Adetumbi, M., G.T. Javor, and B.H.S. Lau. 1986.Allium sativum (garlic) inhibits lipid synthesis
by Candida albicans. Antimicrobial Agents Chemotherapy 30: 499−501.
Radosevich S, Holt J, Ghersa C (1997) Weed Ecology Implications for Management, Wiley, New York.
Sasmitamihardja Dardjat.1991. Fisiologi Tumbuhan. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik  : Direktorat Jendal Pendidikan Tinggi
Watt, J.M. and Breyer-Brandwijk, M.G. 1962. The medicinal and poisonous plants of southern and eastern Africa. 2nd ed. E.&S. Livingstone, Ltd., Edinburgh and London.
Winarno, F.G., 1997, Kimia Pangan dan Gizi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar