Rabu, 23 November 2011

Laporan Kuliah Lapangan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
 Hewan dapat didefinisikan sebagai kelompok makhluk hidup multiseluler yang berevolusi dari organisme eukariot yang memilki nenek moyang “protista” sebagai organisme heterotrof sel tubuh hewan telah mengalami spesialisasi dan mempunyai bermacam-macam fungsi terutama untuk pembentukan struktur tubuh metabolisme, menerima rangsangan, pergerakan, dan reproduksi.
Kepadatan populasi suatu jenis atau kelompok  hewan dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah atau biomassa perunit. Atau persatuan luas atau persatuan volume. Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lain. Keberadaan dan kepadatan popuasi suatu jenis hewan bergantung dari faktor lingkungan yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik bagi hewan itu sendiri yaitu lingkungan dan organisme lain yang terdapat di habitatnya  seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan jenis hewan lainnya. Pada komunitas itu jenis-jenis organisme saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi itu dapat berupa predasi, parasit, kompetensi, simbiosis dan interaksi yang lainnya.
Interaksi antara populasi merupakan interaksi yang terjadi antara populasi-populasi dari berbagai spesies yang berbeda yang hidup bersama dalam suatu komunitas. Dapat dikatakan bahwa populasi dari berbagai spesies berbeda yang terdapat dalam suatu komunitas yang hidup berdampingan satu sama lain. Beberapa ciri statistik penting pada populasi adalah kerapatan, natalitas, mortalitas, sebaran umur, potensi biotik, pancaran dan bentuk pertumbuhan. Di samping itu populasi itu juga memiliki karakteristik genetik yang langsung berhubungan dengan egologinya, adalah keadaptifan, ketegaran reproduktif, dan persistensi meninggalkan keturunan dalam waktu yang lama.
Perhitungan populasi  bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kemelimpahan jenis hewan yang tinggal di suatu tempat. Dalam melakukan penelitian ekologi hewan di lakukan di pantai Sawarna, kecamatan Bayah kabupaten Lebak yaitu dengan menghitung kemelimpahan populasi (metode CMRR), kemelimpahan fauna tanah (metode Pit fall trap), dan menghitung kemelimpahan gastropoda (metode survey). Penelitian ini juga dilakukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum lapangan mata kuliah Ekologi Hewan.
1.1  Tujuan
·         Estimasi Kemelimpahan Populasi (Metode CMRR)
1.      Dapat memperkirakan populasi belalang dengan menggunakan capture-mark-release-recapture (CMRR)
·         Kemelimpahan Fauna Tanah
1.      Untuk mempelajari studi kemelimpahan makro dan mikro fauna tanah dengan metode Pit Fall Trap dan Hand sortir.
·         Studi Kemelimpahan Gastropoda
1.      Mempelajari kemelimpahan gastropoda di kawasan pantai Sawarna














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
     Hewan sebagai komponen penyusun komonitas biotik dalam suatu ekosistem mempunyai peran dan fungsi penting untuk habitat dan lingkungan serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan adalah faktor-faktor di luar makhluk hidup yang berpengaruh langsung pada kemungkinan hewan untuk dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembangbiak. Lingkungan ada yang berhubungan langsung dan ada yang tidak langsung dengan suatu organisme. Kondisi-kondisi lokal yang berhubungan langsung dengan suatu organisme disebut lingkungan mikro, sedang seluruh kondisi abiotik yang ada di luar lingkungan mikro disebut lingkungan makro. Di dalam habitatnya organisme sudah menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada seingga mampu bertahan hidup, tumbuh dan berkembangbiak.
Suatu komunitas terdiri dari berbagai kumpulan populasi yang saling berinteraksi satu sama lain. Oleh karena itu dalam komunitas berarti ada keanekaragaman jenis-jenis ynag terkumpul membentuk populasi dan saling berinteraksi antar populasi tersebut membentuk komunitas. Sehingga dapat dikatakan bahwa di dalam komunitas salah satu cirri utama adalah adanya keanekaragaman jenis.  Keanekaragaman jenis dari seluruh jumlah jenis di dalam komponen tropic atau dalam suatu komunitas secara keseluruhan ditentukan oleh jenis yang jarang, dominan, atau umum (Odum, 1971). Untuk mengetahui keanekaragaman suatu organisme maka kita harus mengetahui kemelimpahan suatu individu, kemelimpahan dapat di ketahui dengan menggunakan beberapa metode yaitu CMRR (Capture, Mark, Release, dan Recapture), Pit Fall trap, dan Transek.

a.      CMMR (Capture, Mark, Release, dan Recapture)
Metode ini sangat penting dalam ekologi hewan sebab tidak hanya perkiraan kerapatan yang diperoleh tetapi perkiraan laju kelahiran dan laju kematian populasi yang dikaji juga diketahui.syarat berlakunya metode CMRR yaitu :
Ø  Pergantian antar individu rendah (tidak mudah mati, tidak mudah besar, tidak mudah berkembang biak).
Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan dilakukan estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya, dan hasil dapat dibuat dalam sistem daftar. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kelompok makhluk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya dan metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi pada rumus Paterson.
Metode Fit Fall Trap
Hewan tanah adalah hewan yang hidup di tanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun yang hidup di dalam tanah. Tanah itu sendiri adalah suatatu bentangan alam yang tersusun dari bahan-bahan mineral yang merupakan hasil proses pelapukan batu-batuan dan bahan organik yang terdiri dari organisme tanah dan hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan lainnya. Jelaslah bahwa hewan tanah merupakan bagian dari ekosistem tanah. Dengan denikian, kehidupan hewan tanah sangatdi tentukan oleh faktor fisika-kimia tanah, karena itu dalam mempelajari ekologi hewan tanah faktor fisika-kimia tanah selalu diukur.
Pengukuran faktor fisika-kimia tanah dapat di lakukan langsung di lapangan dan ada pula yang hanya dapat diukur di laboraturium. Untuk pengukuran faktor fisika-kimia tanah di laboraturium maka di lakukan pengambilan contoh tanah dan dibawa ke laboraturium. Dilapangan hewan tanah juga dapat dikumpulkan dengan cara memasang perangkap jebak (pit fall-trap). Pengumpulan hewan permukaan tanah dengan memasang perangkap jebak juga tergolong pada pengumpulan hewan tanah secara dinamik.

c.       Metode Transek
Pada kuliah lapangan yang dilakukan, dalam mengetahui kelimpahan gastropoda dengan menggunakan metode transek, transek dibentangkan tegak lurus terhadap garis pantai.

Kelas gastropoda merupakan kelas terbesar dari mollusca lebih dari 75.000 species yang ada telah teridentifikasi dan 15.000 diantaranya dapat dilihat bentuk fosilnya.  Fosil dari kelas tersebut secara terus menerus tercatat mulai awal zaman Cambrian. Ditemukan gastropoda di berbagai macam habitat, dapat disimpulkan bahwa gastropoda merupakan kelas yang paling sukses di antara kelas lain (Barnes, 1980).
Morfologi gastropoda terwujud dalam morfologi cangkangnya. Sebagian besar cangkangnya terbuat dari bahan kalsium karbonat yang dibagian luarnya dilapisi zat tanduk (Sutikno, 1995). Cangkang gastropoda yang berputar ke arah belakang searah dengan jarum jam disebut dekstral, sebaliknya bila cangkangnya berputar berlawanan arah dengan jarum jam disebut sinistral. siput-siput gastropoda yang hidup di laut umumnya berbentuk dekstral dan sedikit sekali ditemukan dalam bentuk sinistral (Dharma, 1988). Pertumbuhan cangkang yang melilin spiral di sebabkan karena pengendapan bahan cangkang di sebelah luar berlangsung lebih cepat dari yang sebelah dalam (Nontji, 1987).
            Gastropoda mempunyai badan yang tidak simetris dengan mantelnya terletak di bagian depan, cangkangnya berikut isi perutnya terguling spiral kearah belakang. Letak mantel di bagian belakang inilah yang mengakibatkan gerakan torsi atau perputaran pada pertumbuhan siput gastropoda. Proses torsi ini dimulai sejak dari perkembangan larvanya.pada gerakannya dengan arah berlawanan jarum jam (Dharma, 1988)
Faktor-Faktor Lingkungan yang berpengaruh di daerah pantai adalah faktor biotik dan faktor abiotik, faktor biotik meliputi hewan laut seperti siput laut, tripang, bintang laut, kerang, dan jenis tumbuhan laut berupa ganggang coklat, rumput laut, sedangkan faktor abiotik meliputi pasang surut , suhu, gerakan ombak, salinitas dan substrat dasar.
BAB III
METODOLOGI
a.      Waktu pengamatan
Adapun waktu pengamatannya adalah :
Hari, Tanggal              : Sabtu, 18 Desember 2010
Waktu                         : 09.00 WIB s/d selesai
Tempat                        : Sawarna, Bayah

b.      Metode

3.1  Penelitian Estimasi kemelimpahan populasi (CMRR)
a.       Alat Dan Bahan 
Ø  1 Buah insect net
Ø  Tali rapi
Ø  Tipe-x untuk bahan penanda
Ø  Termometer
Ø  Kantung plastik

b.      Cara Kerja
1.      Menentukan lokasi pencuplikan belalang
2.      Membuat garis lurus dari satu ujung ke ujung yang lainnya dengan menggunakan tali rapia dengan ukuran 5 m.
3.      Melakukan pencuplikan pertama dengan menggunakan insect   net sambil berjalan pada garis yang telah di buat. kemudian berbalik lagi sehingga sampai ke tempat semula. insec net digerak-gerak dengan cara zig zag.
4.      Pencuplikan kedua dilakukan setelah 20 menit dilakukannya pencuplikan pertama.
5.      Pencuplikan dilaksanakan sebanyak 2 kali.
6.      Data hasil pencuplikan dibuat dalam bentuk tabel.
7.      Data hasil pencuplikan di hitung dengan menggunakan metode Petersen.



3.2  Kemelimpahan fauna tanah
a.       Alat Dan Bahan Kemelimpahan fauna tanah
Ø  Aqua  plastik 4 buah
Ø  Tali rapia
Ø  Termometer
Ø  Kertas lakmus
Ø  Sekop
Ø  Larutan deterjen dan Formalin 4%
Ø  Kantung plastik sampel
Ø  Kertas label
b.  Cara Kerja
Metode pit fall trap
1.      Catat kondisi lokasi penelitian (factor klimatik:suhu, kelembaban, pH tanah,tekstur tanah jenis tanah  vegetasi diatas tanah dan pendayagunaan lahan yang di pakai untuk eksperimen).
2.      Plot penelitian dilakukan sebelum melakukan  eksperimen.
3.      Aqua plastik di rangkai sehingga menjadi sebuah jebakan.
4.      Jebakan dibenamkan di dalam tanah dengan bibir cawan sejajar dengan permukan tanah.
5.      Cawan diisi dengan larutan formalin 4% setinggi 2 cm, di tetesi dengan sedikit larutan deterjen,kemudian d pasang pelindung pada bagian atas cawan jebakan.
6.      Perangkap di ambil setelah 1 jam pengamatan dan dilihat berapa banyak spesies yang terjebak.
7.      Data di hitung dengan menggunakan Indeks Shannon-wienner.
8.      Menentukan kemelimpahannya.





3.3  Studi kemelimpahan Gastropoda
a.       Alat Dan Bahan Penelitaian studi kemelimpahan Gastropoda
Ø  Formalin 4%
Ø  pH meter /keretas lakmus
Ø  Termometer
Ø  Tali rapia
Ø  Kantung plastic/botol jam
Ø  Kertas label
b.      Cara Kerja
1.      Penelitian dilakukan dengan metode survey
2.      Penentuan stasiun dilakukan secara purposive random sampling berdasarkan perairan di daerah sawarna
3.      Pengambilan sampel dilakukan dengan metode transek
4.      Transek di bentangkan  tegak lurus terhadap garis pantai dimulai dari mulut pantai
5.      Transek di buat sepanjang 70 meter
6.      Faktor klimatik seperti suhu air, suhu udara, kelembaban udara, salinitas,pH, air,dan Do air diukur.profil  substrat gastropoda pada setiap plot sebaiknya dicatat
7.      Lakukan pengambilan gastropoda dan di simpan di botol selai yang telah di beri larutan formalin 4%.
8.      Identifikasi dengan menggunakan kunci identifikasi.
9.      Analisis data dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shanon-Winner.
10.  Menentukan keragaman dari gastropoda.

Pembahasan
Pada kuliah lapangan tentang estimasi kemelimpahan populasi dengan metode CMMR (Capture, Mark, Recapture, dan Release) dilakukan dengan membuat transek yang berukuran 5 meter dan menangkap belalang dengan memakai Insec net dan di lakukan pencuplikan sebanyak 2 kali. Adapun hasilnya berupa :
Ø  Pada pencuplikan pertama terdapat 2 species belalang yang tertangkap di jarak 2 meter, species tersebut meliputi belalang hijau dan belalang coklat. Sementara pada penangkapan kedua terdapat 2 species belalang yang tertangkap yaitu belalang yang berwarna ijo pada bagian badan nya dan coklat pada bagian coklat pada jarak 5 meter . Adapun species belalang yang tertangkap lagi pada penangkap kembali yaitu berjumlah 1 Species yaitu belalang coklat.
Ø  Pada pencuplikan kedua terdapat 3 species belalang yang tertangkap di jarak 1 meter, species tersebut meliputi belalang hijau . Sementara pada penangkapan kedua terdapat 2 species belalang  yang tertangkap di jarak 5 meter yaitu belalang yang berwarna ijo dan belalang coklat. Adapun species belalang yang tertangkap lagi pada penangkap kembali yaitu berjumlah 1 Species yaitu belalang hijau.
Setelah dilakukan perhitungan mengenai kemelimpahan  dengan menggunakan metode Petersen didapatkan bahwa SE pada pencuplikan pertama lebih  besar dari pada SE pencuplikan Kedua yaitu pencuplikan pertama bernilai 2 dan pencuplikan kedua yaitu 3.46.Adapun species belalang yang tertangkap kembali pada penangkapan kedua Karena belalang tersebut masih dalam lingkup (lingkungan) yang sama adapun jika belalang tersebut berpindah tempat tidak terlalu jauh. Pada pengamatan ini belalang yang kami tandai pada pencuplikan pertama tidak ditemukan kembali pada pencuplikan kedua karena pola penyebaran belalang tersebut luas.
           
4.2 Kemelimpahan Fauna tanah
Pada kemelimpahan fauna tanah, terlebih dahulu mengukur faktor klimatik :
·         Suhu udara terukur           : 360 C
·         Suhu Tanah                       : 320 C
·         PH Tanah                          : 7
Didapatkan 15 semut yang terjebak di Pit Fall trap, adapun perhitungannya adalah :
H   =-. Log
       =-. Log
      =-∑ 1 . log 1
      =-∑ 1 . 0
      = 0
Keterangan :
< 1       : rendah
1-3       : sedang
> 3       : tinggi

Pembahasan
Pada kuliah lapangan tentang kemelimpahan fauna tanah dengan metode pit fall trap  dilakukan dengan membuat plot dan membuat jebakan dari cawan diisi dengan larutan formalin 4% setinggi 2 cm dan ditetesi sedikit deterjen. Setelah satu jam perangkap di ambil hanya terdapat 15 semut yang terjebak. Adapun hasilnya hanya berupa semut saja. Kemungkinan ada beberapa faktor yang mempengaruhinya diantaranya pada waktu membuat jebakan, menggali tanahnya kurang dalam sehingga waktu jebakan di benamkan didalam tanah dengan bibir cawan tidak sejajar dengan permukaan tanah. Akibatnya serangga-serangga lain tidak masuk kedalam jebakan dan hanya semut saja yang masuk kedalam jebakan tersebut.
Setelah dilakukan perhitungan mengenai kemelimpahan dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shanon-Winner  0≤ 1, artinya  keragaman semut rendah
4.2  Kelimpahan gastropoda
Pada kemelimpahan gastropoda, terlebih dahulu mengukur faktor klimatik :
·         Suhu udara terukur           : 360C
·         Suhu Tanah                       : 320 C
·         PH air                                : 9
No
Famili
Jumlah spesies
1
Turbinidae
4
2
Tronchidae
20
3
Fissurellidae
3
4
Ellobiidae
1
5
Strombidae
3
6
Cerithiidae
5
7
Buliidae
1
8
Buccinidae
4
9
Columbellidae 
1

Jumlah
42




Kemelimpahan Gastropoda, di hitung dengan metode Shannon-Wienner
Family Turbinidae (4 Species)
H         =-. Log
            =-. Log
            =-∑ 0,095 . log 0,095
            =-∑ 0,095 . -1,02
            = 0,096

Family Tronchidae (20 Species)
H         =-. Log
            =-. Log
            =-∑ 0,47 . log 0,47
            =-∑ 0,47 . -0,32
            = 0,15

Family Fissurellidae (3 Species)
H         =-. Log
            =-. Log
            =-∑ 0,07 . log 0,07
            =-∑ 0,07 . -1,15
            = 0,08

Family Ellobiidae (1 Species)
H         =-. Log
            =-. Log
            =-∑ 0,02 . log 0,02
            =-∑ 0,02 . – 1,69
            = 0,03

Family Strombidae (3 Species)
H         =-. Log
            =-. Log
            =-∑ 0,07 . log 0,07
            =-∑ 0,07. - 1.15
            = 0,08

Family Cerithiidae (5 Species)
H         =-. Log
            =-. Log
            =-∑ 0,11 . log 0,11
            =-∑ 0,11 . – 0,95
            = 0,10




Family Buliidae (1 Species)
H         =-. Log
            =-. Log
            =-∑ 0,02 . log 0,02
            =-∑ 0,02 . -1,69
            = 0,03

Family Buccinidae (4 Species)
H         =-. Log
            =-. Log
            =-∑ 0,09 . log 0,09
            =-∑ 0,09 . – 1.04
            = 0,09


Family Columbellidae  (1 Species)
H         =-. Log
          =-. Log
=-∑ 0,02 . log 0,02
                                                           =-∑ 0,02 . - 1.69
                                                           = 0,03

Tidak ada komentar:

Posting Komentar